berita PAKKI
https://sc.pakki.org/storage/artikel/418-Cover LSP (1).jpg

Menyusun Safety Critical Elements (SCE) dan Performance Standards: Panduan Praktis untuk Profesional K3

Di banyak perusahaan, dokumen keselamatan terlihat rapi, lengkap, dan sesuai standar. Tapi ketika insiden besar terjadi, pert...

06 Februari 2026 | Konten ini diproduksi oleh A2K4

Di banyak perusahaan, dokumen keselamatan terlihat rapi, lengkap, dan sesuai standar. Tapi ketika insiden besar terjadi, pertanyaan klasik selalu muncul: “Kontrol kritisnya sebenarnya ada atau cuma di atas kertas?”

Di sinilah konsep Safety Critical Elements (SCE) dan Performance Standards (PS) jadi pembeda antara sistem K3 yang hidup dan yang sekadar formalitas.

Artikel ini membahas langkah praktis menyusun SCE, performance standard, hingga assurance plan, lengkap dengan contoh elemen kritis dan cara mengaudit efektivitasnya.



Apa Itu Safety Critical Elements (SCE)?

Safety Critical Elements adalah elemen, sistem, prosedur, atau kompetensi yang jika gagal, berpotensi langsung menyebabkan major accident atau fatality.

Fokusnya bukan ke semua bahaya, tapi ke hazard dengan konsekuensi paling serius.

Ciri utama SCE:

  • Berkaitan langsung dengan fatality, multiple injury, atau catastrophic loss
  • Bersifat preventive atau mitigative barrier
  • Kegagalannya tidak bisa ditoleransi

Contoh sederhana: bukan “APD”, tapi Permit to Work untuk pekerjaan berisiko tinggi.



Langkah Praktis Menyusun SCE

1. Mulai dari Major Accident Hazard (MAH)

Identifikasi dulu skenario kecelakaan besar dari HIRA, HAZID, HAZOP, atau incident history:

  • Jatuh dari ketinggian
  • Ledakan dan kebakaran
  • Paparan gas beracun
  • Energi tak terkontrol (listrik, mekanik)

Jangan mulai dari daftar dokumen, mulai dari skenario fatal.

2. Identifikasi Barrier Kritis

Untuk setiap MAH, tanyakan:

  • Apa yang mencegah kejadian ini terjadi?
  • Apa yang membatasi dampaknya kalau sudah terjadi?

Barrier inilah kandidat SCE, bisa berupa:

  • Prosedur (PTW, LOTO)
  • Sistem teknis (fire protection)
  • Kompetensi (authorized person)
  • Peralatan keselamatan

3. Validasi: Apakah Ini Benar-benar Kritis?

Gunakan uji sederhana:

Jika elemen ini gagal, apakah konsekuensinya bisa fatal atau catastrophic?

Kalau jawabannya “iya”, itu SCE. Kalau “tidak”, itu kontrol biasa.



Menyusun Performance Standards (PS)

Performance Standard menjelaskan bagaimana SCE harus bekerja agar tetap efektif.

Tanpa PS, SCE hanya nama tanpa makna.

Format PS yang praktis biasanya mencakup:

  • Purpose: fungsi keselamatan yang harus dicapai
  • Performance Requirement: kondisi minimum agar efektif
  • Availability: kapan dan di mana harus tersedia
  • Reliability: tingkat keandalan yang diharapkan
  • Survivability: kemampuan bertahan dalam kondisi darurat
  • Verification: cara membuktikan performanya

Contoh SCE dan Performance Standards

1. Permit to Work (PTW)

  • Purpose: Mencegah pekerjaan berisiko tinggi dilakukan tanpa kontrol
  • Performance Requirement:
  • PTW diterbitkan sebelum pekerjaan dimulai
  • Ditandatangani authorized issuer & receiver
  • JSA dan isolasi terverifikasi
  • Verification:
  • Audit kualitas PTW
  • Observasi lapangan (work vs permit match)

2. Lock Out Tag Out (LOTO)

  • Purpose: Mencegah pelepasan energi tak terkendali
  • Performance Requirement:
  • Semua sumber energi teridentifikasi
  • Lock personal, bukan lock bersama
  • Zero energy check dilakukan
  • Verification:
  • LOTO field check
  • Interview pekerja (bukan cuma cek gembok)

3. Working at Height (WAH)

  • Purpose: Mencegah jatuh dari ketinggian
  • Performance Requirement:
  • Anchor point tersertifikasi
  • Full body harness sesuai standar
  • Rescue plan tersedia dan dipahami
  • Verification:
  • Inspeksi alat
  • Simulasi rescue

4. Confined Space

  • Purpose: Mencegah asfiksia, paparan gas beracun, dan ledakan
  • Performance Requirement:
  • Gas test sebelum & selama pekerjaan
  • Standby man terlatih
  • Emergency response siap
  • Verification:
  • Review log gas test
  • Drill confined space rescue

5. Fire Protection System

  • Purpose: Mencegah eskalasi kebakaran
  • Performance Requirement:
  • Fire detector aktif 24/7
  • Fire pump auto start
  • APAR sesuai kelas kebakaran
  • Verification:
  • Functional test
  • Review impairment management

Menyusun Assurance Plan untuk SCE

Assurance plan memastikan SCE tetap efektif sepanjang waktu, bukan hanya saat audit eksternal.

Komponen utama assurance plan:

  • Activity: inspeksi, audit, test, drill
  • Frequency: harian, mingguan, bulanan, tahunan
  • Responsible: siapa yang melakukan dan siapa yang approve
  • Record: bukti objektif
  • Escalation: apa yang dilakukan jika SCE gagal

Pendekatan terbaik adalah three lines of assurance:

  1. Line 1: Supervisor & pekerja (daily check)
  2. Line 2: HSE function (audit & verification)
  3. Line 3: Internal audit / external review

Cara Audit Efektivitas SCE (Bukan Sekadar Compliance)

Audit SCE yang baik tidak berhenti di checklist.

Beberapa pertanyaan kunci:

  • Apakah SCE digunakan di lapangan, bukan hanya tersedia?
  • Apakah pekerja paham why, bukan cuma how?
  • Apakah ada deviasi yang dinormalisasi?
  • Apakah temuan ditutup cepat dan berkualitas?

Gunakan indikator kualitas, bukan kuantitas:

  • Quality of PTW review
  • LOTO applied vs LOTO bypass
  • Rescue readiness, bukan sekadar dokumen rescue plan


SCE dan performance standards menggeser fokus K3 dari “banyak aktivitas” ke “kontrol yang benar-benar menyelamatkan nyawa”.

Perusahaan yang matang secara safety tidak menanyakan “apakah prosedur ada?”, tapi “apakah kontrol kritis ini benar-benar bekerja saat paling dibutuhkan?”